Cuaca ekstrem semakin menjadi isu krusial akibat perubahan iklim yang mempengaruhi berbagai belahan dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena seperti gelombang panas, banjir, dan badai tropis telah meningkat intensitas dan frekuensinya.
Gelombang panas, yang terjadi di banyak kawasan, telah menyebabkan suhu di beberapa negara mencapai rekor historis. Misalnya, di Eropa, musim panas 2022 mencatat suhu sampai 40°C di beberapa kawasan, mengakibatkan kebakaran hutan yang luas dan dampak kesehatan yang serius bagi masyarakat. Masyarakat yang rentan, terutama lansia, menjadi korban langsung dari efek kesehatan akibat suhu ekstrem ini.
Sementara itu, banjir juga menjadi semakin merusak. Di Asia, khususnya di negara-negara seperti Bangladesh dan Pakistan, curah hujan yang tinggi akibat perubahan iklim menyebabkan inundasi yang parah. Tahun 2022, Pakistan mengalami banjir yang menenggelamkan sepertiga wilayah negara tersebut, mengakibatkan lebih dari 33 juta orang terpaksa mengungsi. Kerugian ekonomi dari bencana ini sangat besar, mencapai miliaran dolar, dan dampaknya terhadap ketahanan pangan turut meningkat.
Badai tropis juga menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Di Karibia dan bagian timur AS, badai seperti Hurricane Ian dan Hurricane Fiona telah memicu kerusakan parah serta mempengaruhi kehidupan jutaan orang. Badai-badai ini kini lebih kuat dan lebih sering terjadi, seiring dengan meningkatnya suhu laut akibat pemanasan global. Konsekuensi langsungnya termasuk kehilangan tempat tinggal, kerusakan infrastruktur, dan gangguan dalam sistem pangan.
Perubahan iklim juga mempengaruhi pola curah hujan di berbagai wilayah. Di beberapa tempat, musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering, sedangkan di tempat lain, curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan longsor. Di Afrika Sahel, misalnya, perubahan pola curah hujan menyebabkan krisis pangan dan air, memaksa banyak komunitas untuk berpindah tempat.
Dalam menghadapi cuaca ekstrem ini, mitigasi dan adaptasi menjadi kata kunci. Banyak negara kini berusaha mengembangkan infrastruktur yang lebih tahan banting terhadap bencana alam. Teknologi ramah lingkungan seperti energi terbarukan dan sistem pertanian yang berkelanjutan juga terus didorong guna mengurangi emisi gas rumah kaca.
Selain itu, kesadaran akan pentingnya keberlanjutan semakin meningkat. Masyarakat, terutama generasi muda, mulai berpartisipasi dalam gerakan lingkungan, mengadvokasi tindakan nyata untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Kampanye global untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pengurangan jejak karbon semakin banyak dimanfaatkan untuk mendorong kebijakan pro-lingkungan di seluruh dunia.